Ujian Kenaikan Kelas (?)

“Ujian itu di kehidupan nyata ini dan jawabannya ialah ‘bagaimana kita menyikapinya’.” Seperti itulah maksud pesan yang ingin disampaikan Akbar, seorang alumni SMP Pomosda.

Pagi ini, (20/05) merupakan hari terakhir Ujian Akhir Semester sekaligus Ujian Kenaikan Kelas bagi para santri SMP Pomosda. Lebih dari seminggu sebelumnya, (mulai tanggal 12–20 Mei 2017) santri SMP Pomosda telah menjalani UAS. Sabtu pagi ini dimulai dengan doa oleh para santri kelas tujuh dan delapan. Didampingi beberapa ustadz dan ustadzah, mereka bermunajat kepada Tuhan bukan memohon untuk nilai-nilai ujian yang bagus, untuk predikat “A” dan rata-rata tinggi dalam rapor, untuk lulus ujuan dan naik tingkat, ataupun untuk menjadi juara kelas. Sama sekali bukan. Mereka memunajatkan agar apa-apa yang akan mereka kerjakan seharian nanti (entah itu ujian, belajar, berteman, dan apapun) selalu dalam ­ad-din, supaya berproses menuju Tuhan.

Bagi santri SMP Pomosda ini, esensi ujian bukanlah soal-soal yang ditanyakan dalam lembar-lembar soal kemudian mereka jawab dengan menuliskannya di lembar jawaban. Lebih dari itu bagi mereka ujian merupakan “soal masa-depan”. Mereka sadar akan posisi mereka sebagai santri, sebagai murid, dan sebagai siswa yang memiliki tanggung jawab akan masa depan dirinya, lebih-lebih kepada masa depan bangsaa dan negara. Dengan kesadaran seperti itulah dalam doa mereka, mengapa mereka sama sekali tidak memohon untuk hal-hal materiil untuk bergengsi-gengsi. Tetapi untuk kemanfaatan diri dan kemaslahatan bangsa dalam perilaku yang berorientasi pada keselamatan.

Para santri SMP Pomosda yang bertekad mengambil alih cita-cita orang tua mereka untuk menjadi “anak saleh” ini, telah diberi sangu oleh ustadz dan ustadzah sebagai bekal menjawab soal-soal ujian yang jauh lebih kontekstual, yakni soal-soal masa depan tentang kehidupan.

Alumni SMP Pomosda yang saat ini tengah mendulang ilmu di SMA Pomosda, Akbar, telah membuktikan hal itu. Ia mengakui telah dengan sadar menghadapi ujian, yang baru ia pahami bahwa ujian sebenarnya ialah di lingkungan sekitar (dalam kehidupan bersosial, bermasyarakat, bertetangga, berteman, dan sebagainya), sama sekali bukan di dalam kelas. Ia harus menjawab permasalahan dan gejolak yang terjadi dengan perbuatannya, bukan dengan coretan-coretan yang akan diberi centang benar atau salah oleh para guru/ustadz. Ia sangat sadar akan hal itu. Untuk itu, ia merasa bersyukur telah diberi kesempatan untuk besekolah di SMP Pomosda.

Di SMP Pomosda, para santri mendapatkan pendidikan (bukan hanya pelajaran) untuk bagaimana memosisikan diri di tengah-tengah masyarakat (Tahu diri), bagaimana membentuk dan memiliki mental seorang pejuang yang tidak hanya memikirkan kepentingan-kepentingan pribadi (Beradab), bagaimana membangun opini kemaslahatan dan keselamatan dengan bertanya dan berpendapat secara kritis untuk membangun kebersamaan dan kekeluargaan (Berpengetahuan), dan bagaimana memiliki skill agar dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, bahkan lingkungan baru sekalipun (Terampil). Semua ini jelas sesuai dengan visi yang dicanangkan oleh SMP Pomosda.

Leave a Reply