GENERASI KREATIF SEJAK DINI

 

Membaca ayat yang sungguhan adalah pendidikan yang sangat efektif untuk membentuk kepedulian anak didik. Semangat belajar akan sendirinya tersulut. Dan tugas sekolah untuk mengobarkan sulutan api tersebut.
SMP Pomosda, masih satu-satunya sekolah yang telah memadukan pendidikan bertakwa dengan umum. Mendorong para santri untuk berkarya dengan niat ibadah, bukan semerta-merta mengejar materiil. Dampaknya, luar biasa. Mereka justru dapat berpikir mandiri.
Jika sekarang anak-anak remaja malas, tak acuh dengan perkembangan dirinya, santriwan-sntriwati SMP Pomosda justu bergelut dengan alam. Mereka mengaku sendang mendapat bekal seperti itu. “Saya senang, Kak. Justru saya bisa mengaplikasikan ilmu yang saya pelajari di kelas,” ujar Rifky, santri kelas IX SMP Pomosda.
Visi yang dibangun salah satunya adalah kemandirian yang didasari atas keimanan. Mereka belajar terjun ke alam dengan niat ibadah. Memakmurkan bumi Allah. Kreatifitas justru tumbuh dan berkembang seiring dengan kegiatan yang dijalani.
Setiap hari, mereka merawat tanaman yang ditanaminya sendiri. Ratusan vertikultur dan ribuan polybag dirawat oleh mereka sebagai wujud pendidikan kepedulian dan kemandirian.
Pendidikan informal memang penting. Pengaruh pergaulan bebas yang semakin ke sini tak terkendali adalah faktor kuat mengapa generasi kekinian cenderung tak bermoral dan bermental rendah. Di SMP Pomosda, para santri akan mendapat bekal seluruhnya. Berkreasi setiap hari, dengan dasar nilai-nilai keagamaan yang kuat.
Lingkungan yang terbangun budaya belajarnya membantu anak-anak dalam meraih kesuksesannya menjadi manusia yang utuh. Menurut pimpinan, pangemong, pengasuh Pomosda, Bapak Kiai Tanjung, pendidikan di Pomosda, mulai dari TPA, SMP, SMA, dan perguruan tingginya (STT Pomosda), adalah kawah candra dimuka, sebuah wadah untuk membangun keluarga yang sama-sama ingin memproses menuju keselamatan setelah mati.
Di Pomosda, tidak mungkin hanya mengajarkan tentang agama saja, atau dunia saja, karena agama dan dunia itu satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Setiap hari, santri belajar ilmu pengetahuan di kelas, membaca Al-Quran (ayat-ayat nyata dari Allah), berkreasi, mengeluarga, dan belajar bekerja di dunia, hanya sekadar menjalankan ibadah.
SMP Pomosda, tidak membuat produk manusia yang sekadar bisa bekerja, atau tenaga kerja. SMP Pomosda, melahirkan generasi yang peduli, respon, respek, simpati, dan tanggap mengoptimalkan potensi yang ada di sekitar. Maka, pertanian, peternakan, menjahit, menulis, kimia, fisika, apapun itu sangat akrab di kehidupan santri SMP Pomosda. Hidup kader bangsa yang kreatif! Lanjutkan perjuanganmu pada kader bangsa!

 

Leave a Reply